Review Forgetting Not Forgotten by Wiwi Suyanti
Review Forgetting Not Forgotten by Wiwi Suyanti
Judul : Forgetting Not Forgotten
Penulis : Wiwi Suyanti
Penerbit : Elex Media Komputindo
ISBN : 978-602-04-5315-6
Tebal : 396 hal
Annyeong.. kali ini aku membawa karya dari kak Wiwi. Jadi sebelumnya aku itu udah ngelap iler mulu karena kakak-kakak bookstagram banyak banget yang nge-review novel ini. Terus dari review-review yang aku baca, buku ini itu wajib banget buat dipeluk . Nah pada kesempatan ini aku bakal mengulik kisah dari abang Seb. Intip blurbnya dulu yukss…
Blurb :
Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Seb, menumpangi bus tua dengan setelan mahalnya. Bertemu dengan gadis SMA dengan selera musik yang sangat mengejutkannya. Bahkan keduanya terlibat obrolan yang belum pernah Seb lakukan dengan siapa pun sebelumnya.Siapa sebenernya gadis SMA ini, sampai-sampai kehadirannya begitu ditunggu Seb? Dan mengapa gadis itu begitu misterius dibalik senyumnya?
Seb seperti orang yang hilang akal. Pertemuan singkatnya dengan gadis SMA misterius itu sangat membekas. Seb, bahkan menumpangi bus umum itu selama seminggu penuh hanya untuk mencari gadis itu meskipun hasilnya nihil. Hingga tiba hari akhirnya ia dipertemukan dengan gadis’nya’, Serra. Seseorang yang duduk di sebelah Serra pun tak segan untuk Sebastian usir.Keduanya terlibat dalam percakapan yang sangat terbilang ajaib.
Di pertemuan kedua mereka, Serra dan Seb justru membicarakan kehidupan pribadi masing-masing. Sampai dimana Seb berniat memasuki kehidupan Serra. Namun, Serra bukanlah seperti gadis SMA yang lainnya. Dan di sisi lain Seb tak bisa jauh dari Serra, karena baginya Serra adalah ‘Candu’ yang mengobati masa kelamnya.
Pertama-tama memasuki bab awal, aku merasa wuahhhh sangat-sangat gilaaa.. apa yah rasanya tuhh benar-benar complicated banget. Jika diumpamakan nih ya, dari penampilannya Seb ini seperti Porsche tapi di dalamnya Seb ini seperti angkot yang sudah penyok disana-sini. Seb merasa hidupnya sudah benar-benar hancur dan tak ada harapan, yang ada dipikiran dia hanyalah urusan pekerjaan. Hatinya serasa mati, belum lagi masa lalu yang begitu membayanginya dan membuat Seb harus berteman dengan pil tidur.
Terkadang kita menilai seseorang hanya dari penampilan semata. Menilai bahwa kehidupan seseorang itu begitu sempurna. Tak pernah tahu bahwa sesungguhnya apa yang didalam tak seperti apa yang terlihat. Hanya karena orang tersenyum, bukan berarti bahagia. Kita tak pernah tahu apa yang selalu membayangi hidupnya.Serra memberi kesempatan terhadap Seb untuk memasuki hidupnya. Tapi tak seperti yang kita bayangkan, Serra menerima Seb karena masalah ‘materi’ dan Serra siap untuk meninggalkan pria yang selama ini menyokong urusan finansialnya demi Seb. Mungkin tindakan Seb ini dinilai gila. Ia rela memberikan apapun kepada Serra demi mendapatkan candunya itu.
Ancaman yang diterima Serra kian memantapkan langkah Serra untuk menerima Seb disisinya. Hubungan Serra dengan Ibunya yang sudah buruk membuat masalah kian pelik. Belum lagi fakta bahwa Sofie pun terpaksa turut ikut dalam kekusutan benang mereka.Ayah Seb yang mulai mencium gelagat keduanya, turut mengusutkan keadaan. Ia bahkan tahu masa kelam dan ancaman yang terus-terusan menghantui Serra
Seb hanya ingin bersama dengan Serra. Bukannya Serra tidak mau, namun masa lalu yang masih mengejar Serra, tak mampu membuatnya melangkah maju. Serra hanya akan hidup dalam kubangan masa lalu yang entah sampai kapan akan membayanginya.Ayah Seb dengan rencana piciknya pun justru memanfaatkan kelemahan Serra dan Sofie untuk melancarkan aksinya.
Hingga cobaan menghantam ketiganya bertubi-tubi. Serra sadar apa yang harus dilakukannya saat ini. Mundur mungkin adalah langkah terbaik, apalagi ketika Seb mulai membencinya. Tapi perasaannya yang telah ia tumbuhkan pada Seb terlalu sulit dipadamkan.
Seperti yang aku katakan sebelumnya, cerita ini nggak membiarkan pembacanya menarik napas walau sekejap aja. Kalau menurut aku konflik yang disajikan itu benar-benar kompleks dan padat. Jadi kalo baca novel ini tuh nggak bisa berleha-leha. Tapi ini pendapat aku aja kali ya, aku agak sedikit kehilangan karakter Seb, malah Serra yang agak dominan. Ini pendapat aku aja loh ya. Untuk bagian akhir, aku masih sedikit bingung dan bertanya-tanya sih akan konflik antara Seb dan Ayahnya. Atau mungkin memang cukup digambarkan secara tersirat aja.
Yang jelas sepanjang aku membaca novel ini memang bikin perasaan aku acak-acakan. Sampe kata-kata ‘What?’ ‘Ini kok gini..’ ‘Wuah gila’ ‘Hah yang bener’ aku lisankan sepanjang membaca saking emang emosi aku dibuat naik turun. Dan satu hal yang pasti, AKU NGGAK BISA MOVE ON…. dan juga novel ini cocok untuk mengobati reading slump
Judul : Forgetting Not Forgotten
Penulis : Wiwi Suyanti
Penerbit : Elex Media Komputindo
ISBN : 978-602-04-5315-6
Tebal : 396 hal
Annyeong.. kali ini aku membawa karya dari kak Wiwi. Jadi sebelumnya aku itu udah ngelap iler mulu karena kakak-kakak bookstagram banyak banget yang nge-review novel ini. Terus dari review-review yang aku baca, buku ini itu wajib banget buat dipeluk . Nah pada kesempatan ini aku bakal mengulik kisah dari abang Seb. Intip blurbnya dulu yukss…
Blurb :
Seb Januardi nyaris memiliki segalanya. Tampan, mapan, berkuasa. Hanya dengan menyebut nama belakangnya saja, ia bisa mendapatkan apapun yang ia mau. Kemudian hidupnya berubah drastis ketika takdir mempertemukannya dengan sosok gadis berusia sepuluh tahun lebih muda darinya di dalam sebuah bus tua. Cantik, misterius, dan seolah tahu cara melumpuhkannya dengan telak.
Bersama gadis itu, jatuh cinta sedalam-dalamnya adalah hal termudah yang bisa Sebastian rasakan. Dan melupakannya, adalah hal tersulit yang tak akan pernah bisa ia lakukan. Lalu, ketika sosok itu benar-benar pergi. Mampukah ia menjalani kehidupannya seperti semula?
“Aku punya firasat kita akan menjadi akrab.”Sebastian sudah terbiasa menjalani hidup seperti robot. Hanya bisa mengangguk ketika ayahnya memberikan perintah, termasuk bertunangan dengan Alice, wanita yang sangat tidak disukainya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Alice, cantik dan tentu saja dari kalangan keluarga terpandang. Tapi hanya Seb yang tahu bagaimana busuknya Alice. Bahkan Sofie, adik dari Seb sangat menyukai Alice.Hingga ‘kecelakaan’ yang disebabkan Alice membuat situasi kian parah. Seb dituntut untuk mengumumkan pertunangan mereka.
“Hati-hati,” Gadis itu tersenyum tipis. “Kalau terlalu akrab, elo bisa ketagihan.”
Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Seb, menumpangi bus tua dengan setelan mahalnya. Bertemu dengan gadis SMA dengan selera musik yang sangat mengejutkannya. Bahkan keduanya terlibat obrolan yang belum pernah Seb lakukan dengan siapa pun sebelumnya.Siapa sebenernya gadis SMA ini, sampai-sampai kehadirannya begitu ditunggu Seb? Dan mengapa gadis itu begitu misterius dibalik senyumnya?
Seb seperti orang yang hilang akal. Pertemuan singkatnya dengan gadis SMA misterius itu sangat membekas. Seb, bahkan menumpangi bus umum itu selama seminggu penuh hanya untuk mencari gadis itu meskipun hasilnya nihil. Hingga tiba hari akhirnya ia dipertemukan dengan gadis’nya’, Serra. Seseorang yang duduk di sebelah Serra pun tak segan untuk Sebastian usir.Keduanya terlibat dalam percakapan yang sangat terbilang ajaib.
Di pertemuan kedua mereka, Serra dan Seb justru membicarakan kehidupan pribadi masing-masing. Sampai dimana Seb berniat memasuki kehidupan Serra. Namun, Serra bukanlah seperti gadis SMA yang lainnya. Dan di sisi lain Seb tak bisa jauh dari Serra, karena baginya Serra adalah ‘Candu’ yang mengobati masa kelamnya.
Pertama-tama memasuki bab awal, aku merasa wuahhhh sangat-sangat gilaaa.. apa yah rasanya tuhh benar-benar complicated banget. Jika diumpamakan nih ya, dari penampilannya Seb ini seperti Porsche tapi di dalamnya Seb ini seperti angkot yang sudah penyok disana-sini. Seb merasa hidupnya sudah benar-benar hancur dan tak ada harapan, yang ada dipikiran dia hanyalah urusan pekerjaan. Hatinya serasa mati, belum lagi masa lalu yang begitu membayanginya dan membuat Seb harus berteman dengan pil tidur.
Terkadang kita menilai seseorang hanya dari penampilan semata. Menilai bahwa kehidupan seseorang itu begitu sempurna. Tak pernah tahu bahwa sesungguhnya apa yang didalam tak seperti apa yang terlihat. Hanya karena orang tersenyum, bukan berarti bahagia. Kita tak pernah tahu apa yang selalu membayangi hidupnya.Serra memberi kesempatan terhadap Seb untuk memasuki hidupnya. Tapi tak seperti yang kita bayangkan, Serra menerima Seb karena masalah ‘materi’ dan Serra siap untuk meninggalkan pria yang selama ini menyokong urusan finansialnya demi Seb. Mungkin tindakan Seb ini dinilai gila. Ia rela memberikan apapun kepada Serra demi mendapatkan candunya itu.
Ancaman yang diterima Serra kian memantapkan langkah Serra untuk menerima Seb disisinya. Hubungan Serra dengan Ibunya yang sudah buruk membuat masalah kian pelik. Belum lagi fakta bahwa Sofie pun terpaksa turut ikut dalam kekusutan benang mereka.Ayah Seb yang mulai mencium gelagat keduanya, turut mengusutkan keadaan. Ia bahkan tahu masa kelam dan ancaman yang terus-terusan menghantui Serra
Seb hanya ingin bersama dengan Serra. Bukannya Serra tidak mau, namun masa lalu yang masih mengejar Serra, tak mampu membuatnya melangkah maju. Serra hanya akan hidup dalam kubangan masa lalu yang entah sampai kapan akan membayanginya.Ayah Seb dengan rencana piciknya pun justru memanfaatkan kelemahan Serra dan Sofie untuk melancarkan aksinya.
Hingga cobaan menghantam ketiganya bertubi-tubi. Serra sadar apa yang harus dilakukannya saat ini. Mundur mungkin adalah langkah terbaik, apalagi ketika Seb mulai membencinya. Tapi perasaannya yang telah ia tumbuhkan pada Seb terlalu sulit dipadamkan.
Seperti yang aku katakan sebelumnya, cerita ini nggak membiarkan pembacanya menarik napas walau sekejap aja. Kalau menurut aku konflik yang disajikan itu benar-benar kompleks dan padat. Jadi kalo baca novel ini tuh nggak bisa berleha-leha. Tapi ini pendapat aku aja kali ya, aku agak sedikit kehilangan karakter Seb, malah Serra yang agak dominan. Ini pendapat aku aja loh ya. Untuk bagian akhir, aku masih sedikit bingung dan bertanya-tanya sih akan konflik antara Seb dan Ayahnya. Atau mungkin memang cukup digambarkan secara tersirat aja.
Yang jelas sepanjang aku membaca novel ini memang bikin perasaan aku acak-acakan. Sampe kata-kata ‘What?’ ‘Ini kok gini..’ ‘Wuah gila’ ‘Hah yang bener’ aku lisankan sepanjang membaca saking emang emosi aku dibuat naik turun. Dan satu hal yang pasti, AKU NGGAK BISA MOVE ON…. dan juga novel ini cocok untuk mengobati reading slump

Komentar
Posting Komentar